By Susan Minnemeyer, Tjokorda Nirarta “Koni” Samadhi, James Anderson and Mimi Gong


Read this post in English here

Citra satelit terbaru mengungkap adanya sekelompok titik kebakaran dalam kawasan yang tadinya merupakan salah satu hutan dunia dengan keanekaragaman hayati terkaya—Taman Nasional Tesso Nilo di Indonesia.

Rentetan kebakaran baru-baru ini dimulai sejak 29 Mei 2015, berdasarkan peringatan titik api NASA pada platform Global Forest Watch Fires (GFW Fires), dan sejak saat itu peringatan terus bermunculan setiap hari, dengan jumlah total 185 peringatan. Dari angka ini, 47 merupakan peringatan titik api dengan tingkat keyakinan tinggi, sehingga kemungkinan hubungannya dengan pembakaran hutan untuk pembersihan lahan bagi agrikultur lebih besar.

Yang patut diperhatikan adalah bahwa ini hanya merupakan kebakaran terbaru di kawasan yang dilindungi, rumah bagi harimau dan gajah sumatera, di antara spesies-spesies lain yang terancam punah. Terlepas dari pengklasifikasian kawasan secara legal sebagai area lindung, Taman Nasional ini sebenarnya memiliki sejarah panjang terkait dengan pembalakkan untuk agrikultur serta ancaman-ancaman lainnya.

Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit dan Taman Tesso Nilo

Tesso Nilo pertama kali didirikan sebagai Taman Nasional pada tahun 2004. Batas kawasannya diperluas pada tahun 2009, dan taman ini menjadi salah satu area dataran rendah terbesar berupa hutan hujan tropis di Indonesia.

Tapi pembalakkan ke dalam wilayah Tesso Nilo yang dilakukan oleh ribuan pendatang telah merajalela. Sejak tahun 2000, lebih dari 47,000 hektar (116,000 akre) tutupan pohon telah dibuka, membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit maupun pembangunan lain. Dimasukkannya Tesso Nilo ke dalam Moratorium Hutan nasional Indonesia telah gagal melindungi taman ini, dan kerusakan terus berlanjut.

Kebakaran bukan merupakan kejadian alamiah di hutan Indonesia dan jarang terjadi kecuali mereka dinyalakan oleh manusia. Meskipun menyalakan api di hutan melanggar hukum, kecuali untuk area yang digunakan untuk agrikultur petani, pembakaran digunakan secara luas di Provinsi Riau bersamaan dengan konversi hutan sebagai perkebunan kelapa sawit atau kayu sebagai alternatif yang lebih murah dari pembukaan lahan secara mekanis. Semua pembakaran dalam area yang dilindungi adalah ilegal.

Rentetan kebakaran hutan yang besar juga terjadi di taman ini sepanjang tahun 2013. Pembalakkan liar ke dalam taman serta lemahnya penegakkan perlindungan legal telah menjadi isu yang berlangsung selama tahunan, bahkan sampai menjadi fitur pada acara primer Years of Living Dangerously, menggarisbawahi peran deforestasi dalam perubahan iklim global. Laporan oleh para pers Indonesia pada tanggal 3 Juli mengindikasikan bahwa tiga individu telah ditangkap dalam hubungannya dengan kebakaran hutan baru-baru ini di Tesso Nilo, akan tetapi kebakaran aktif terus berlangsung sampai setidaknya 9 Juli.

TessoNiloGIFsmall

Fires within Tesso Nilo National Park, Indonesia.

Citra tanggal 5 Juli ini menangkap titik api aktif di samping area ekstensif berupa hutan yang telah dibuka dan dikonversi dalam batas-batas Taman Nasional Tesso Nilo, menunjukkan besarnya pembalakkan liar dari kawasan yang dilindungi. Gunakan alat geser untuk mengungkap kebakaran aktif di bawah asap kabut, yang dimungkinkan oleh sensor short wave infrared (SWIR) satelit. Pada citra SWIR, vegetasi sehat muncul sebagi titik merah dan wilayah terbakar kehitaman; dalam area yang secara aktif terbakar, temperatur diindikasikan dalam rentang biru yang dingin sampai panas intens sebagai merah. (Citra resolusi 30 cm dengan rona alami ditumpangtindihkan dengan citra SWIR 7.5m rona semu, keduanya diperoleh satelit Worldview-3 Digital Globe pada 5 Juli 2015.)

Kekhawatiran terkait Penegakkan Hukum

Tesso Nilo secara legal terdaftar sebagai kawasan yang dilindungi, dan artinya ekstraksi kayu maupun pembukaan hutan untuk agrikultur tidak diizinkan di dalam taman tersebut. Fakta bahwa banyak tutupan pohon yang telah hilang selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kurangnya penegakkan hukum.

Pada saat bersamaan, area ini juga dilindungi oleh kebijakan moratorium penerbitan izin baru untuk membuka lahan hutan di Indonesia. Kebijakan moratorium ini, yang sebelumnya dikeluarkan oleh presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono dan kemudian diperpanjang oleh Presiden Joko Widodo pada Mei 2015, ditujukan untuk memperlambat laju deforestasi nasional, yang saat ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, sekaligus untuk menandai wilayah terlindungi seperti Tesso Nilo. Sementara moratorium telah mencegah pembangunan konsesi-konsesi baru di area tersebut, kebijakan ini belum dengan jelas dimengerti atau dilaksanakan di banyak lokasi.

Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?

Pemerintah Indonesia dapat menunjukkan keseriusannya terkait hukum kehutanan dengan memecahkan isu kebakaran ilegal di Tesso Nilo maupun area lain. Pemerintah Indonesia telah menggunakan peringatan titik api nyaris tepat waktu dari satelit, dan informasi ini juga dapat diakses melalui platform publik seperti GFW Fires. Citra resolusi tinggi dapat memberikan bukti pada level detil yang diperlukan oleh pejabat penegakkan hukum guna menginvestigasi kebakaran ilegal. Pemerintah indonesia juga dapat melakukannya sambil tetap melanjutkan pembangunan perkebunan sawit pada lahan yang telah terdegradasi di luar wilayah yang dilindungi.

Negara ini juga memerlukan institusi pemerintah yang relevan sekaligus badan penegakkan hukum untuk menyatukan usaha melawan pembakaran lahan ilegal. Satuan tugas (satgas) kebakaran hutan dan lahan yang didirikan di bawah UKP4 pada tahun 2014, namun kemudian dibubarkan, memainkan peran kepemimpinan yang penting dalam menghentikan kebakaran serta membawa aksi legal yang dibutuhkan terhadap para pelaku. Membentuk satgas serupa hari ini, dapat menjadi langkah penting dalam menunjukkan bahwa melawan kebakaran dan menegakkan implementasi moratorium hutan merupakan prioritas bagi kepemimpinan baru Indonesia.

Publik juga dapat memainkan peran. Kunjungi website GFW Fires untuk menemukan kabar terbaru terkait kebakaran di Tesso Nilo. Klik pada tombol ‘sign up for alerts’ di pojok kanan atas peta untuk mendapatkan email atau SMS notifikasi otomatis terkait keberadaan peringatan titik api di area tertentu.


BANNER PHOTO: satellite image collected by Digital Globe’s Worldview-3 satellite in partnership with the World Resources Institute on July 5, 2015