Oleh Susan Minnemeyer, Sarah Sargent, Karyn Tabor dan Greg Soter


Available in English here.

Smokey the BearSmokey the Bear fire danger sign in Paradise Valley, Nevada. Photo credit: Famartin / Wikimedia Commons.

Musim panas tahun ini, sebagian besar kebakaran yang paling merugikan di dunia mungkin terjadi di hutan dan lahan gambut di Indonesia.

Tahun lalu, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mengeluarkan lebih banyak emisi daripada emisi  harian yang dihasilkan perekonomian AS selama separuh musim panas. Asap beracun dan kabut menimpa ratusan ribu penduduk, mengganggu perekonomian, memicu masalah pernapasan dan bahkan menyebabkan kematian. Dapatkah krisis ini dihindari jika Indonesia memiliki peringatan bahaya kebakaran harian?

Peta Risiko Kebakaran baru di Global Forest Watch Fires bertujuan menyediakan peringatan kebakaran di Asia Tenggara. Setiap hari, sebuah permodelan komputer menghasilkan peta interaktif baru yang menunjukkan di wilayah mana saja di Indonesia dan Malaysia kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran. Perangkat ini dapat membantu pembuat kebijakan mengambil langkah untuk mencegah kebakaran sebelum kebakaran tersebut terjadi.

firerisk_GIF_June6_small

Bagaimana Peta Tersebut Bekerja?

Para ahli di inisiatif Firecast Conservation International, Global Solutions Group, dan WRI mengembangkan peta risiko kebakaran berdasarkan Sistem Penilaian Bahaya Kebakaran US Forest Service. Peta tersebut memprediksi risiko terjadinya dan menyebarnya kebakaran di suatu area tertentu menggunakan data satelit yang mengukur temperatur, kelembaban, dan curah hujan. Metrik tersebut membantu mengestimasi kadar air serasah hutan (pohon dan bagian tumbuh-tumbuhan yang telah mati), semakin kering serasah hutan, semakin tinggi pula risiko kebakarannya. Seperti ditunjukkan pada gambar di bawah, ketika suatu wilayah berada dalam kondisi mudah terbakar, seperti pada saat musim El Niño tahun lalu, kebakaran dapat dengan cepat membesar. Tahun lalu, Provinsi Kalimantan Tengah, yang mengalami jumlah kebakaran terbesar, memiliki nilai rata-rata risiko kebakaran menengah hingga tinggi dalam kurun waktu 143 hari antara 21 Juni hingga 11 November, yang berdampak pada 29,785 peringatan kebakaran.

Fire_Risk_Chart-01

Tentu saja cuaca bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan apakah kebakaran akan terjadi. Sebagian besar kebakaran hutan di Indonesia disebabkan oleh perbuatan manusia, akibat pembukaan hutan untuk aktivitas pertanian dan kehutanan. Akan tetapi, derajat kekeringan dan temperatur memberikan pengaruh besar terhadap penyebaran kebakaran. Dengan tersedianya peringatan harian mengenai waktu dan lokasi lahan yang paling mudah terbakar, lembaga pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dapat menyalurkan sumber daya ke wilayah-wilayah yang berisiko tinggi terhadap kebakaran.

Apa yang Kemungkinan Terjadi Pada Tahun 2016

Indonesia saat ini telah memasuki musim kemarau (biasanya pada bulan Juni hingga Oktober), yakni saat kebakaran hutan dan lahan sangat umum terjadi dan kualitas udara memburuk. Akan tetapi, El Niño, peristiwa iklim musiman yang menghangatkan suhu laut dan menyebabkan kondisi kering pada 2015, kini telah sebagian besar berakhir. Sebaliknya, ada 75 persen kemungkinan terjadinya La Niña, peristiwa iklim yang merupakan kebalikan dari El Niño, yang menciptakan kondisi lebih basah daripada biasanya di Indonesia dan mungkin menyebabkan musim kemarau yang lebih pendek.

Sejauh ini di tahun 2016, sebagian besar wilayah Indonesia relatif mengalami hujan dan sedikit kebakaran, meskipun kondisi relatif kering. Data menunjukkan bahwa risiko kebakaran rata-rata di beberapa provinsi yang mengalami kebakaran besar tahun lalu saat ini ada di tingkat menengah hingga rendah. Walaupun demikian, beberapa wilayah di Provinsi Riau serta Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat mulai memasuki kondisi risiko kebakaran tingkat tinggi.

Mencegah Bencana Kebakaran di Masa Mendatang

Tanda-tanda risiko kebakaran yang lebih rendah seharusnya tidak membuat kita berpuas diri. Mencegah kebakaran lebih murah daripada mengatasi kebakaran, dan musim kebakaran tahun ini dapat menghadirkan kesempatan untuk mengatasi akar permasalahannya.

Pengelola lahan dapat mengambil langkah proaktif untuk mencegah kebakaran selama periode risiko kebakaran tinggi:

  • Mengambil langkah-langkah pencegahan. Sebagai contoh, APRIL, perusahaan dengan konsesi kayu pulp yang luas di Provinsi Riau, telah menerapkan langkah-langkah pencegahan kebakaran ketika kondisi menjadi semakin kering. Perusahaan tersebut memblokir saluran air untuk menaikkan permukaan air di perkebunan untuk mengurangi kemungkinan terpicunya kebakaran.
  • Berlangganan peringatan kebakaran di GFW Fires. Peringatan tersebut akandikirimkan melalui email atau SMS segera setelah kebakaran dideteksi, dan dengan demikian pihak-pihak terkait dapat segera mengerahkan pemadam kebakaran untuk mengatasi kebakaran tersebut. Anda juga segera akan dapat berlangganan peringatan risiko kebakaran tinggi.
  • Bekerja dengan masyarakat setempat di sekitar area perkebunan. Petani kecil dan masyarakat mungkin tidak memiliki kapasitas atau perangkat yang sama dengan perusahaan-perusahaan besar, dan mungkin butuh meminjam perlengkapan untuk membuka lahan atau belajar dari perusahaan mengenai bagaimana mencegah kebakaran.

Lembaga pemerintahan juga dapat mengambil langkah proaktif:

  • Menginformasikan kepada masyarakat ketika risiko kebakaran tinggi. Di Amerika Serikat, peringatan akan bahaya kebakaran membantu pengguna hutan mengetahui apakah aman untuk membuat api unggun atau mengoperasikan peralatan tertentu. Peringatan atau larangan serupa mengenai kebakaran pada hari-hari yang kering dapat membantu meningkatkan kesadaran. Kampanye publik juga dapat mengedukasi para petani untuk menggunakan metode non-api untuk mempersiapkan lahan mereka untuk pertanian.
  • Mengharuskan perusahaan perkebunan untuk mengembangkan rencana manajemen kebakaran dan menerapkan tindakan pencegahan kebakaran. Beberapa hal tersebut dapat mencakup mewajibkan perusahaan untuk mempertahankan kapasitas tanggap kebakaran yang memadai, seperti mempekerjakan staf pemadam kebakaran dan para ahli.
  • Mengoordinasi tindakan tanggap kebakaran ketika api mulai muncul untuk mencegah penyebaran. Lembaga nasional harus bekerja sama dengan pemerintah daerah, dan juga dapat menerima bantuan dari pemerintah nasional lainnya dalam bentuk pendanaan, peralatan, atau penyelidikan atas perusahaan atau individu yang terlibat dalam kebakaran.

Global Forest Watch dan Conservation International berencana untuk terus bekerja sama membangun peta risiko kebakaran, termasuk memperluas cakupannya ke wilayah geografis lainnya. Kami menyambut masukan Anda tentang bagaimana informasi ini dapat berguna bagi pekerjaan Anda.

Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai peta risiko kebakaran, silakan baca publikasi Conservation International, A satellite model of forest flammability, dan kunjungi situs web Firecast. Unduh peta risiko kebakaran harian atau peta hari-hari sejak curah hujan terakhir melalui Portal Data Terbuka GFW.


Karyn Tabor bekerja di Conservation International, menangani pengembangan perangkat Firecast. Greg Soter adalah pemrogram GIS yang mengadaptasi model Firecast untuk Indonesia.

Artikel ini awalnya muncul di WRI Insights.

BANNER PHOTO: The King Fire, which burned Sept/Oct 2014 on the Eldorado and Tahoe National Forests. Photo by USFS Region 5 (Flickr).